Showing posts with label call to Islam. Show all posts
Showing posts with label call to Islam. Show all posts

Wednesday, September 19, 2007

Bagaimana Kita Menegakkan Daulah Islam?

SALAFIYYUN DAN DAULAH ISLAM
Oleh: Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali hafizhahullahu
Pertanyaan.
Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali ditanya : Bagaimana sikap kita dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan kepada As-Salafiyyun, bahwa As-Salafiyyun tidak peduli dengan masalah Iqamatud Daulah atau Khilafah Al-Islamiyah (Mendirikan atau membangun negara dan kekuasaan Islam)?
Jawaban
Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ash habihi wa man walah. Sebagaimana yang tadi telah disebutkan oleh Syaikh Ali Hafizhahullah bahwa syubhat-syubhat itu banyak sekali [1]. Sehingga menjawabnya pun membutuhkan waktu yang panjang. Oleh karena itu beliau meringkasnya. Dan apa yang telah beliau sampaikan sebenarnya sudah cukup. Namun, tatkala permasalahan yang ditanyakan berkaitan dengan masalah kenegaraan dan pemerintahan, maka permasalahan ini merupakan permasalahan paling besar, dan merupakan sebab terbesar yang telah membangkitkan dan mengobarkan para pemuda untuk sangat mudah melakukan takfir (pengkafiran) dan pemberontakan atau demo-demo, dan bahkan perbuatan anarkis. Sebagian permasalahan ini telah dijelaskan oleh Syaikh Ali Hafizhahullah dan saya akan menjelaskan dari sisi lain, yang kaitannya lebih erat dengan permasalahan politik atau kenegaraan secara ringkas pula, insya Allah. Pertama kali yang semestinya kita pahami adalah, bahwa negara yang penduduknya kaum Muslimin, di dalamnya dikumandangkan adzan, ditegakkan shalat, mayoritas keadaan kaum muslimin berhukum dengan syari’at Islam, maka negara ini adalah negara Islam. Karena perbedaan antara negara Islam dengan negara kafir, sebagaimana telah disebutkan oleh Al-Muzani dalam kitab Ushulus Sunnah, adalah dikumandangkan adzan dan ditegakkan shalat di dalamnya. Oleh karena itu, terhadap orang-orang yang mengatakan “kalian tidak peduli dengan iqamatud Daulatil Islamiyah (mendirikan negara Islam)”, maka kita katakan kepada mereka sesungguhnya negara-negara Islam sudah ada dan berdiri! Namun yang menjadi permasalahan, mayoritas hukum-hukum yang kini diterapkan di sebagian negara-negara Islam, baik dalam bidang perekonomian, politik, pendidikan, kebudayaan dan lain-lainnya, hampir secara keseluruhan merupakan hukum-hukum buatan manusia, hukum-hukum import (yang di datangkan dari negara-negara kafir,-red). Para ulama telah menjelaskan secara terperinci tentang permasalahan ini [2]. Yakni, tentang berhukum dengan hukum-hukum atau undang-undang buatan manusia. Para ulama menerangkan, bahwa seseorang yang berhukum dengan hukum selain hukum Allah, berarti ia telah melakukan sebuah kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari agama Islam. Akan tetapi, mungkin saja kekafiran kecil yang kecil ini mengeluarkannya kepada kekafiran yang besar seperti yang telah saya terangkan secara rinci di Masjid Istiqlal kemarin [3]. Yaitu apabila ia menganggap dan berkeyakinan halal atau bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah ; atau ia berkata, saya tidak merasa wajib atau harus berhukum dengan hukum Allah ; atau berkata berhukum dengan selain hukum Allah lebih baik daripada berhukum dengan hukum Allah ; atau berkata, hukum-hukum dan undang-undang lainnya sama saja dengan hukum Allah ; atau berkata, saya bebas (terserah saya mau berhukum dengan hukum Allah atau selainnya, sama saja) ; dan perkataan lainnya yang senada dengannya. Maka, berarti ia –dengan kesepakatan ulama Ahlus Sunnah- telah melakukan kekafiran yang besar (keluar dari Islam, red). Wal ‘iyadzu billahi tabaraka wa ta’ala. Berarti, selama negara-negara Islam kini sudah ada dan tegak, yang dituntut untuk kita lakukan adalah memperbaiki keadaan negara-negara Islam ini, dengan metode yang telah diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; baik dalam cara berdakwah, pembinaan umat berdasarkan metode at-tasfiyah wat-tarbiyah (memurnikan umat dari kesyirikan, bid’ah dan maksiat, kemudian membina membimbing mereka memahami Islam dengan baik dan benar), bukan dengan cara-cara yang saat ini gencar dilakukan oleh sebagian golongan-golongan atau partai-partai. Seperti melakukan kudeta-kudeta militer, pemberontakan-pemberontakan, aksi-aksi mogok, atau bahkan lebih ironis lagi mengadakan aliansi dengan negara-negara kafir, demi menggulingkan pemerintah negara Islam, atau usaha-usaha lainnya. Ketahuilah ! Justru semua ini semakin menambah perpecahan dan kelemahan kaum muslimin di banyak negara-negara Islam! Jadi, yang kita lakukan ialah mengadakan perbaikan-perbaikan pada pemerintah negara-negara Islam saat ini. Kita pun berusaha menyatukan seluruh negara-negara Islam, agar mereka saling bekerjasama, bersatu, menolong antara yang satu dengan yang lainnya ; dan akhirnya mereka seperti firman Allah berikut.“Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain…” [At-Taubah : 71] Hendaknya kita selalu ingat dan tidak lupa bahwa orang-orang kafir, walaupun kekafiran mereka berbeda-beda, negara mereka pun berbeda-beda, namun hendaknya kita tetap waspada dan siaga bahwasanya mereka senantiasa melakukan penyatuan-penyatuan yang terorganisir sesama mereka, baik dalam masalah politik, perekonomian, ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Karena (merekapun tahu) bahwa bersatu merupakan kekuatan. Oleh karena itu, di antara tujuan kita (dalam mengadakan perbaikan-perbaikan di segala bidang kehidupan) adalah seperti Syaikh kami (Al-Albani rahimahullah) selalu menuliskan di dalam buku-buku beliau, berupaya menuju kehidupan yang Islami. Tentu saja, beliau tidak bermaksud bahwa kehidupan Islami saat ini tidak ada sama sekali! Akan tetapi yang beliau maksud, bahwa kehidupan Islami yang ada saat ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari agama Allah. Maka dari itu, kita harus berdakwah kepada manusia dan kaum muslimin seluruhnya, menuju penegakkan syari’at Allah dalam seluruh bidang kehidupan mereka ; baik dalam bidang politik, perekonmian, ataupun ilmu pengetahuan. Demikian pula dalam hubungan nasional maupun internasional, baik bersama kawan atau pun lawan. Inilah sekilas dan pandangan kita (tentang bernegara) secara umum dan singkat. Metode kita ialah melakukan perbaikan-perbaikan dengan cara berdakwah mengajak manusia kepada Allah, memurnikan mereka dari polusi kesyirikan, bid’ah, dan maksiat, lalu membimbing dan membina mereka kepada pemahaman dan praktek Islam yang baik dan benar. Seperti firman Allah.“Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik….” [An-Nahl : 125] Kita juga jangan sampai melupakan, wahai saudara-saudaraku, bahwa tegaknya daulah Islamiyah merupakan pemberian dan karunia Allah semata bagi hamba-hambaNya yang shalih dan bertakwa. Jika kita beramal, juga orang-orang shalih beramal, maka sesungguhnya kekuatan, kekuasaan dan kejayaan Islam merupakan janji Allah. Allah berfirman.“Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridahiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun denganKu…”[An-Nur : 55] Dan kami berikan kabar gembira kepada anda semua, bahwa masa depan adalah milik Islam yang benar dan lurus, yang berada di atas manhaj As-Salafush Shalih. Manhaj yang diberkahi Allah, yang mengikat menusia agar senantiasa berhubungan dengan Allah dan melaksanakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang akan membawa mereka semua kepada keimanan, keamanan dan kedamaian.Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufiqNya selalu kepada setiap muslim.
[Ceramah Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali di Jakarta Islamic Center, Ahad 23 Muharram 1428 H/11 Februari 2007 M]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XI/1428H/2007. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
__________
Foote Note
[1]. Lihat majalah As-Sunah, liputan edisi 01/XI/1428H/1427M, rubrik Manhaj, Salafiyyun Menepis Tuduhan Dusta, ceramah Fadhilatusy-Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari –haizhahumullahu, di masjid Islamic center Jakarta, hari ahad 23 Muharam 1428H/11 Februari 2007M
[2]. Lihat risalah ilmiah Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali yang menjelaskan masalah ini secara gamblang dan terperinci, Qurratu Uyun fi Tash-hihi Tafsiri Abdillah Ibni Abbas Li Qaulihi Ta’ala : Wa Man lamYahkum bi Ma Anzalalluhu fa Ula-ika Hummul Kafirun.
[3]. Ceramah di masjid Al-Istiqlal Jakarta, hari Sabtu, 22 Muharram 1428H/10 Februari 2007. Pembahasan yang dimaksud kami angkat pada edisi ini dalam satu rangkaian rubrik Manhaj. Lihat jawaban Fadhilatusy Syaikh Salim bin Id Al-Hilali hafizhahullahu tentang Kufrun Duna kufrin.
softcopy dari: almanhaj.or.id

Tuesday, September 11, 2007

Agama Penebar Kasih

Dalam dekade terakhir ini, kita sering mendengar aksi sosial yang dilakukan oleh “Green Peace”, sebuah organisasi internasional yang berantusias dan berjuang dalam menjaga dan memperhatikan hewan-hewan, baik yang berpopulasi tinggi, apalagi langka. Hal ini memberikan opini kepada masyarakat bahwa hanya orang-orang kafir itulah yang memiliki perhatian kepada hewan dan lingkungan alam sekitar kita. Padahal tidaklah demikian, bahkan Islam adalah agama yang syamil (mencakup segala segi) dan kamil (sempurna) dalam syari’at dan dan aturannya.

Andaikan kita mau mempelajari Al-Quran, sunnah, dan atsar para salaf, niscaya kita akan tercengang, “Oh, ternyata agamaku lebih sempurna dalam mengatur segala urusan”, termasuk di antaranya, perhatian Islam terhadap hewan dan lingkungan.
Allah -Ta’ala- berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya: 107)
Allah -Ta’ala- berfirman,
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ ءَامَنَ وَمَا ءَامَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman, “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina) dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit”. (QS. Hud: 40)
Al-Hafizh Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata, “Ketika itulah Allah memerintahkan Nuh -’alaihis salam- untuk membawa bersamanya dalam bahtera, masing-masing dua pasang dari berbagai jenis makhluk yang memiliki ruh. Konon kabarnya, selain itu juga berupa tumbuhan, baik jantan maupun betina”. [Lihat Tafsir Al-Quran Al-Azhim (2/580)]
Demikianlah syari’at yang dibawa oleh Nabi Nuh -’alaihis salam-, maka bagaimana lagi dengan syari’at Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang membawa agama dan syari’at yang mencakup segala segi dan lebih sempurna. Sebagai bukti hal ini, berikut ini kami bawakan beberapa hadits dan atsar yang memerintahkan untuk menyayangi dan memperhatikan hewan.
Abdullah bin Ja’far -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.
Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
أَفَلَا تَتَّقِى اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهِيْمَةِ الَّتِى مَلَكَ اللهُ إِيَّاهَا
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
ا ِ رْكَبُوْا هَذِهِ الدَّوَابَّ سَالَِمَةً وايتدعوها سَالِمَةً وَلَا تَتَّخِذُوْهَا كَرَاسِي
“Tunggangilah hewan ini dalam keadaan ia sehat. Biarkanlah ia dalam keadaam sehat, dan jangan engkau menjadikannya sebagai kursi”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/440 dan 4/234), Ibnu Hibban (2002-Mawarid), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (3/444 dan 2/100), Al-Baihaqiy (5/225), dan lainnya. Lihat As-Shahihah (21)]
Di antara bentuk kasih sayang Islam, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan kita agar jangan menjadikan binatang seperti mimbar.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
إِيَّاكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوْا ظُهُوْرَ دَوَابِّكُمْ مَنَابِرَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِنَّمَا سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتَبْلُغَكُمْ إِلَى بَلَدٍ لَمْ تَكُوْنُوْا بَالِغِيْهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنْفُسِ
“Hati-hatilah, jangan kalian menjadikan punggung hewan tunggangan kalian sebagai mimbar, karena Allah -Ta’ala- hanya menundukkannya untuk kalian agar Allah menyampaikan kalian ke suatu negeri yang belum pernah kalian capai, kecuali dengan susah payah”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (2567), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan (5/255), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (19/85/1). Lihat Ash-Shahihah (22)]
Sahl bin Al-Hanzhaliyyah berkata, “Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah melewati seekor onta yang kempis perutnya (lapar) seraya bersabda,
اِتَّقُوْا اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهَائِمِ المعجمة فَارْكَبُوْهَا صَالِحَةً وَكُلُوْهَا صَالِحَةً
“Bertakwalah kalian atas binatang-binatang yang bisu ini, maka tunggangilah ia dalam keadan ia baik, dan lepaskanlah dalam kondisi yang baik”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (2548). Lihat Ash-Shahihah (23)]
Sebagai bentuk kasih sayang terhadap binatang, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- murka ketika melihat ada seseorang yang mengasah pisaunya di depan mata hewan sembelihannya.
Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah melewati seorang laki-laki yang meletakkan kakinya pada pipi kambingnya, sedang ia mengasah belatinya dan kambing itu juga memperhatikannya dengan kedua matanya. Maka beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
أَفَلَا قَبْلَ هَذَا ؟ ! أَتُرِيْدُ أَنْ تُمِيْتَهَا مَوْتَتَيْنِ
“Mengapa engkau tidak mengasahnya sebelum ini? Apakah engkau mau membunuhnya dua kali?!” [HR. Ath-Thabraniy dalam Al-Kabir (8/140/1) dan Al-Baihaqiy dalam As-Sunan (9/280). Lihat Ash-Shohihah (24)]
Demikian pula seseorang dalam Islam dilarang membuat binatang jadi risau, kelabakan, ketakutan, dan sedih, seperti; memisahkan anaknya yang masih kecil dari induknya atau menyakiti dan mempermainkannya.
Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Dulu kami bersama Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- di dalam suatu safar. Kemudian beliau pergi untuk suatu hajat. Kami pun melihat dua ekor burung bersama dua ekor anaknya. Kemudian kami ambil dua ekor anaknya tersebut. Setelah itu datanglah Nabi seraya berssabda,
مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا ؟ رُدُّوْا وَلَدَهَا إِلَيْهَا
“Siapakah yang mengagetkan burung ini dengan (mengambil) anaknya? Kembalikan anaknya kepadanya”. [HR. Al-Bukhary dalam Al-Adab Al- Mufrad (382) dan Abu Dawud dalam As-Sunan (2/146). Lihat Ash-Shahihah (25)]
Sebagian manusia tidak menyayangi binatang, sehingga hewan, mereka tendang bagaikan bola, disiram air panas seperti tembok, dikencingi seperti toilet, dibuang layaknya sampah. Padahal perbuatan ini tercela, karena menyelisihi adab-adab dalam Islam yang mulia.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
وَالشَّاةُ اِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللهُ
“Sesungguhnya kambing, apabila engkau sayangi, maka Allah Akan menyayangimu.’ [HR. Al-Bukhary dalam Al-Adab Al-Mufrad (373), Ath-Thabraniy dalam Ash-Shagir (hal. 6) dan selainnya. Lihat Shahih Adab (hal. 132)]
Bahkan seekor binatang yang lebih rendah dan kecil dibandingkan dengan kambing, seperti burung pipit pun harus disayangi.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةَ عُصْفُوْرٍ رَحِمَهُ اللهًُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang menyayangi, walaupun sembelihan burung pipit, maka Allah akan menyayangi orang itu di hari kiamat” . [HR. Al-Bukhariy dalam Al-Adab Al-Mufrad (371), Tamam Ar-Raziy dalam Al-Fawaid (2/194/1), dan Al-Baihaqiy dalam Asy-Syu’ab (3/3/145/1). Lihat Ash-Shahihah (27)]
Menyayangi binatang merupakan perkara yang memiliki keutamaan yang tinggi. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
بَيْنَمَا كَلْبٌ يَطِيْفُ بِرَكِيَّةٍ قَدْ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ ؛ إِذْ رَأَتْهُ بَغْيٌ مِنْ بَغَايَا بَنِيْ إِسْرَائِيْل فَنَزَعَتْ مُوْقَهَا فَاسْتَقَتْ لَهُ بِهِ فَسَقَتْهُ إِيَّاهُ فَغَفَرَ لَهَا بِهِ
“Tatkala ada seekor anjing yang mengelilingi sebuah sumur, ia hamper-hampir mati karena haus. Tiba-tiba ia dilihat oleh seorang wanita pelacur di antara pelacur-pelacur Bani Israil. Kemudian wanita itu melepaskan selopnya seraya mengambilkan air untuk anjing itu dengan menggunakan selop itu. Ia pun memberi minum kepada anjing itu. Lantaran itu Allah mengampuni dosa wanita itu”. [HR. Al-Bukhary dalam Ash-Shahih (3278) dan Muslim dalam Ash-Shahih (2245). Lihat Ash-Shahihah (30) ]
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy-hafizhahullah- berkata saat menjelaskan faedah- faedah hadits ini, “Di dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk berbuat baik kepada hewan,(yaitu selama kita tidak diperintahkan untuk membunuhnya); juga terdapat keutamaan memberi minum. Luasnya rahmat Allah -Ta’ala- sampai meliputi hewan, karena termasuk makhluk-Nya”. [Lihat Bahjah An-Nazhirin (1/206-207)]
Sekali lagi perhatikan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menganjurkan sahabat dan ummatnya untuk menyayangi hewan. Beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Takkala ada seorang lelaki berjalan di sebuah jalan tiba-tiba ia sangat kehausan. Lalu ia menemukan sumur dan iapun turun sambil mengambil minum, lalu keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya sambil menjilat tanah karena haus. Laki-laki itu berkata, “Sungguh anjing ini merasakan haus sebagaimana yang aku rasakan”, kemudian iapun ke sumur seraya memenuhi selopnya dengan air. Dia menggigit selopnya sehingga ia bisa naik, iapun memberi minum anjing itu. Maka Allah bersyukur kepada lelaki itu dan mengampuni dosanya”. Mereka para (sahabat) bertannya, “Wahai Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- Apakah benar kami mendapatkan pahala karena binatang?” Beliau menjawab, “Dalam setiap sesuatu yang memiliki hati yang basah (makhluk hidup) terdapat pahala”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya (2369, 2466, dan 6009), Abu Dawud dalam Sunan-nya (2550), dan Malik dalam Al-Muwaththa’ (hal. 929-930)]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 21 Tahun I
soft copy dari: http://almakassari.com

Friday, August 3, 2007

Strategi Belajar Ilmu Dien

Saudaraku, ilmu agama merupakan bahan baku kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan tanpa ilmu. Oleh sebab itu, setiap usaha untuk menggapai kebahagiaan yang ditempuh tanpa bimbingan ilmu pasti akan mengalami kebuntuan. Tidak percaya?..Lihatlah orang-orang yang menganggap kebahagiaan di bangun di atas pemuasan hawa nafsu kebinatangan. Mereka habiskan energi dan waktu mereka untuk mengejar kenikmatan sementara yang pada akhirnya berujung dengan hukuman dan siksa. Duhai, alangkah malang nasib mereka...

Tidakkah kita ingat bagaimana kaum Nabi Luth yang durhaka kepada Nabi-Nya. Mereka campakkan fithrah yang ada di dalam diri mereka dan mereka justru menggantinya dengan pelanggaran dan dosa yang belum pernah dikerjakan oleh umat sebelum mereka. Maka dari itu Allah timpakan kepada mereka siksa yang berlipat ganda... Allah sudah mengingatkan kepada kita; fakullan akhadzna bi dzanbih. Setiap kelompok yang durhaka itu kami hukum karena dosanya... diantara mereka ada yang dihujani dengan batu, ada yang mati karenma lengkingan suara yang memekakkan telinga, ada yang dibenamkan di dalam perut bumi dan adapula yang binasa dengan cara ditenggelamkan di dalam samudera... Itulah akibat dari kebodohan mereka. Bodoh tentang hakikat kebahagiaan yang sejati...

Oleh karena itu, kita sangat bergembira dengan kembali tumbuhnya semangat mempelajari ilmu agama yang menghiasi wajah generasi muda. Mereka kuliah tapi juga mengaji. Mereka kuliah tapi juga berdakwah. Mereka kuliah tapi juga bisa membaca kitab para ulama. Mereka kuliah tapi juga memakmurkan masjid dengan ilmu dan akhlaq mulia. Namun, sayang ada sebagian pemuda yang tidak mengerti bagaimanakah cara yang tepat untuk mereka agar bisa meniti jejak para ulama. Maka wajar apabila sebagian pemuda terjebak dalam gerakan-gerakan dakwah yang menyimpang dari jalan para ulama. Mereka sibuk, mereka lelah...akan tetapi sayang jalan yang mereka tempuh bukan jalan lurus. Sehingga waktu mereka terbuang percuma...lama berkegiatan namun tidak merasakan peningkatan ilmu agama. Lama mengaji namun tidak ada perubahan apa-apa...wallaahul musta'aan.

Maka dari itu, sudah saatnya kita kembali mengkaji bagaimanakah cara yang tepat bagi kita untuk tetap bisa menuntut ilmu dan mengamalkannya di tengah situasi berkecamuknya fitnah, godaan dan beraneka ragam penyimpangan yang mewarnai kehidupan masyarakat kita... Allah ta'ala berfirman yang artinya, " Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatau kaum sampai mereka mau mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11). Rasul juga bersabda, "Barang siapa yang dikehendaki menjadi baik oleh Allah maka Allah akan pahamkan dia dalam urusan agama." (HR. Bukhari dan Muslim) [Abu Muslih]

diambil dari pamflet kajian "Kiat Sukses Menuntut Ilmu Syar'i Al-Manhajiyah Fi Tholabul 'Ilmi Syar'i"

Ngaji terus,...kapan santainya?!

Imam Ahmad pernah ditanya; Wahai Imam, samapai kapankah seorang hamba bisa merasakan nikmatnya bersantai-santai? Beliau menjawab "Yaitu di saat pertama kali dia berhasil menginjakkan kedua telapak kakinya di surga..."
Ilmu telah membuat para ulama berkelana ke segenap penjuru dunia, ilmu telah membuat seorang budak berubah menjadi penguasa, ilmu pula lah yang berhasil membongkar makar musuh-musuh Allah sehingga mereka bungkam dan tak berdaya...lihatlah kisah para ulama salaf yang rela mengorbankan apa saja demi meraih ilmu yang sesungguhnya
diambil dari pamflet kajian "Kiat Sukses Menuntut Ilmu Syar'i Al-Manhajiyah Fi Tholabul 'Ilmi Syar'i"

Thursday, August 2, 2007

Nasihat Syaikh Al-Albany Untuk para Penuntut Ilmu Syar'i

MUTIARA NASEHAT SYAIKH ALBANY TERHADAP THOLABUL 'ILM"

Aku nasehatkan untuk saya pribadi khususnya dan untuk saudarasaudaraku kaum muslimin pada umumnya agar bertaqwa kepada Allah.Diantara bagian-bagian taqwa yang akan aku nasehatkan adalah : Pertama, Hendaklah kalian menuntut ilmu syar'i dengan ikhlash karena Allah, janganlah ada tujuan-tujuan yang lain seperti mengharapkan sesuatu balasan, ucapan terima kasih atau senang tampil di muka umum. Kedua, diantara penyakit yang menimpa para penuntut ilmu syar'i adalah ujub dan lupa daratan, dia merasa sudah memiliki ilmu cukup sehingga berani berpendapat sendiri tanpa mengambil bantuan dan penjelasan ulama' salaf.
Sebagaimana mereka tidak bersyukur kepada Allah yang telah memberikantaufiq kepada mereka, berupa ilmu yang benar dan adab-adabnya, bahkanmereka tertipu dengan diri mereka sendiri dan mereka menyangka bahwamereka telah memiliki kemapanan ilmu sehingga muncul dari merekapendapatpendapat yang mengguncangkan, tidak dilandasi dengan pemahaman yang benar berlandaskan al-Kitab dan as-Sunnah. Maka nampaklah pendapat-pendapat ini dari pemikiran-pemikiran yang tidak matang, mereka menyangka bahwa fatwa-fatwa tersebut adalah ilmu yang diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah.
Maka, mereka sesat dengan pemikiran-pemikiran tersebut dan menyesatkan banyak manusia, dan kalian mengetahui semuanya diantara dampak negatif dari fenomena tadi adalah munculnya kelompok-kelompok di sebagian negeri islam mengkafirkan kelompok-kelompok lainnya dengan alasan-alasan yang dibuat-buat, tidak bisa kami kemukakan dalam kesempatan yang singkat ini, karena pertemuan kami ini sekarang khusus sedang memberikan peringatan dan nasehat kepada para penuntut ilmu dan juru da'wah, oleh karena itu saya nasehatkan saudara-saudara kami dari ahli sunnah dan ahli hadits di seluruh negeri islam agar mereka sabar dalam menuntut ilmu, dan agar mereka tidak tertipu dengan ilmu yang mereka miliki sekarang.
Mereka harus mengikuti jalan yang telah digariskan, jangan sekalikalimereka bersandar dengan mengandalkan semata-mata pemahaman mereka atau mereka beri nama dengan ijtihad mereka.Saya sering sekali mendengar dari saudara-saudara kami mereka mengatakan dengan sangat mudahnya, "saya berijtihad" atau "saya berpendapat demikian" tanpa memikirkan akibat-akibat yang ditimbulkan dari ucapan-ucapannya.Mereka tidak mengambil bantuan dari kitab-kitab fiqh dan hadits sertapemahaman ulama terhadap kitab-kitab tersebut. Yang ada hanya hawa nafsu dan pemahaman yang dangkal dalam menggunakan dalil, sedangkanpenyebabnya adalah ujub dan lupa daratan. Oleh karena itu, sekali lagi aku nasehatkan kepada para penuntut ilmu agar menjauhi segala akhlak yang tidak islami, di antaranya agar mereka tidak tertipu oleh ilmu yang telah didapatkannya serta tidak tergelincir ke dalam ujub. Ketiga, terakhir, agar mereka menasehati manusia dengan cara yang lebih baik, menjauhi cara-cara yang kasar dan keras dalam berdakwah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik." (QS an-Nahl :125)
Allah berfirman dengan ayat tadi karena kebenaran itu sendiri berat atas manusia atau menerimanya, dan berat atas jiwa-jiwa mereka, oleh karena itu secara umum jiwa manusia sombong untuk menerimanya, kecuali sedikit orang yang dikehendaki Allah untuk langsung menerimanya. Apabila beratnya kebenaran itu atas jiwa manusia ditambah dengan beratnya cara berupa kekasaran dalam da'wah, maka itu berarti menjadikan manusia lari dari da'wah kebenaran. Kalian tentu mengetahui sabda Shallallahu 'alaihi wa sallam."Sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat orang lari (dari kebenaran). Beliau mengulanginya tiga kali. Sebagi penutup, saya memohon kepada Allah Ta'ala agar jangan menjadikan kami sebagai orang-orang yang membuat orang lain lari dari kebenaran, akan tetapi jadikanlah kami sebagai orang-orang yang memiliki hikmah dan orang-orang yang mengamalkan al-Qur'an dan as-Sunnah.
Nasihat Bagi Pemuda Muslim Dan Penuntut Ilmu

Friday, July 27, 2007

Siapkan Diri Dalam Dakwah

Oleh: Al-Ustadz Aris Munandar, S.S.
“Serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik pula.” (Q.S. An-Nahl:125)

Petikan ayat tersebut memberikan pemaparan yang sederhana dengan muatan pesan yang padat dalam menjalankan roda dakwah. Ada tiga tahapan yang akan dilalui dalam hal ini. Pertama, ajakan tersebut semata-mata ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala dengan hikamah bukan jalan yang lain seperti golongan, kelompok tertentu yang bisa membuat perpecahan. Kedua, ajakan tersebut hendaknya dilakukan dengan tutur kata yang sopan dan lemah lembut, laiknya seorang pedagang yang hendak menawarkan dagangannya, ia harus bersikap ramah dan tidak garang yang membuat larinya para pelanggan. Adapun tahapan yang ketiga, sekiranya perlu berbantah-bantahan hendaknya dengan cara yang baik dan bijak sehingga tidak membakar emosi lawan bicara.
Adapun menurut Syaikh Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau mengatakan ada empat tingkatan, sedangkan urutan keempat sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka.” (Q.S. Al-Ankabut: 46)
Sebuah keniscayaan dalam berdakwah haruslah berbekal ilmu pengetahuan terhadap syari’at Allah sehingga ada landasan kuat dari ilmu dan bashirah (argument). Terkait dengan hal ini, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah, inilah jalan agamaku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan hujjah yang nyata (bashirah). Maha suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Yusuf: 108)
Kutipan arti dari ayat tersebut, sekilas dapat dipahami bahwa seruan dakwah dalam menegakkan agama ini bermodal tidak lain adalah bashirah (argumen yang nyata). Penjelasan singkat bashirah dalam dakwah adalah hendaknya da’i mengetahui hukum-hukum syari’at , metode penyampaian dalam dakwah dan kondisi orang-orang yang akan dijadikan sebagai objek dakwah.
Sementara itu, pengertian medan dakwah tidak terbatas di masjid-masjid dan mimbar-mimbar keagamaan. Selain melalui pidato dan ceramah-ceramah, melalui tulisan-tulisan atau makalah-makalah juga merupakan sarana yang efektif untuk pembinaan umat . Begitu juga dakwah dengan membentuk halaqah-halaqah (kajian) ilmu.
Dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, adalah tugas para rasul serta jalan bagi orang yang mengikuti mereka. Yaitu bani Adam yang mengetahui Dzat yang disembahnya, serta yang dikaruniai taufik oleh-Nya. Karena itu sudah selayaknya kita berusaha menyelamatkan orang-orang lain dengan menyeru agar kembali kepada Allah, memberi kabar baik penuh suka cita.
Nabi shalallahu ‘alaihi was sallam bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pada hari Khaibar, “Melangkahlah ke depan dengan tenang sehingga engkau samapai di pelataran mereka. Lalu ajaklah mereka kepada Islam, kabarkanlah kepada mereka hak-hak Allah dalam Islam yang wajib mereka lakukan. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi petunjuk seorang laki-laki dengan perantaramu itu lebih baik bagimu dari pada unta-unta merah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Inilah di antara petikan nasihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi was sallam dalam membakar semangat para shahabat agar terus melangkahkan kakinya menegakkan agama Allah subhanahu wa ta’ala. Menariknya beliau memberikan sebuaha harapan besar di mana unta merah pada masa Nabi adalah sebuah kebanggaan laiknya mobil terbaik di zaman ini. Karenanya sebuah harapan besar tak mungkin dapat dicapai bila dilakukan tanpa dasar ilmu pengetahuan.
Sebuah hadits yang masyhur tatkala Rasul shalallahu ‘alaihi was sallam mengutus Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu ke Yaman bisa menjadi gambaran bagi para da’i. Nabi menekankan kepada sisi tauhid sebagai mukadimahnya, karena keimanan itulah yang kelak mampu menggugah kesadaran beragama. Adapun pijakan yang tak boleh lepas adalah dua pusaka peninggalan Rasulullah shalallahu ‘alaihi was sallam; Al-Qur’an dan As-Sunnah. Keduanya yang menjadi sumber utama dengan diikuti warisan para ulama salafusshalihin, dan meninggalkan semua bentuk pemikiran yang keluar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dikutip dari: Majalah Swaraquran edisi No.6 Tahun ke-6 1427 H/2006 M

Friday, May 18, 2007

Berkenalan Dengan Bidadari di Surga

Allah subhanahu wa ta’ala akan menikahkan orang-orang mu’min di surga dengan wanita-wanita cantik yang bukan istri-istri mereka di dunia sebagai mana firmannya yang terjemahannya “Demikianlah, dan kami nikahkan mereka dengan bidadari” (Q.S. Ad-Dukhan:54). Al-Qur’an melukiskan bidadari sebagai perumpamaan berbadan indah: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah-buah angur, dan gadis-gadis berbadan indah sebaya” (terjemah Q.S. An-Naba’: 31 – 33).Bidadari dalah makhluq yang khusus diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala untuk para penduduk surga dan mereka adalah gadis-gadis perawan: Sesungguhnya kami menciptakan merka (bidadari-bidadari) secara khusus, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya” (terjemah Q.S. Al-Waqi’ah 35 – 37).
Fakta bahwa mereka perawan berarti bahwa mereka belum pernah dinikahi :”…yang tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (terjamah Q.S. Ar-Rahman:56). Ayat di atas membantah pendapat bahwa istri-istri yang alkan diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala untuk penduduk surga adalah istri-istri mereka dalam kehidupan di dunia ini, yang diciptakan muda lagi untuk suami-suami mereka. Allah subhanahu wa ta’ala memang akan memasukkan wanita-wanita beriman ke dalam surga dengan memudahkan merka kembali, tetapi mereka bukanlah bidadari khusus yang diciptakan Allah untuk penghuni surga.
Al-Qur’an juga menceritakan tentang kecantikan wanita-wanita di syurga: ”Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan”. (terjemah Q.S. Al-Waqi’ah: 22 – 23). Maknun (tersimpan baik) mengandung arti tersembunyi atau terlindungi, sehingga warnanya tidak berubah karena sinar matahari atau sengaja diubah. Di ayat lainnya Al-Qur’an menyamakan mereka dengan permata yaqut (ruby, batu merah delima) dan marjan: “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukan pandangannya tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka (bidadari) bagai yaqut dan marjan.” (Q.S Ar-Rahman: 56 – 58).Batu yaqut (ruby, batu merah delima) dan batu marjan adalah dua jenis permata yang tingi harganya. Bidadari dalam ayat berikut digambarkan sebagai bidadari yang dipingit. Ini artinya mereka sangat membatasi penglihatan merka agar tidak melihat kepada lelaki selain para suami merka. Allah subhanuahu wa ta’ala juga menyatakan bahwa bidadari sangat cantik: ”Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah”. (terjemah Q.S. Ar-rahman 70 – 72).
Wanita-wanita di surga tidak sama dengan wanita-wanita di dunia ini. Wanita-wanita surga bebas dari hal-hal seperti haid, nifas, buang air kecil dan besar, meludah dan sebagainya. Inilah yang dimaksud dengan ayat, “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci (bebas dari haid, nifas dan sebagainya), dan merka kekal di dalamnya”. (terjemah Q.S. Al-Baqarah:25). Nabi shallahu ‘alaihi wassalam menceritakan kepada kita tentang kecantikan para istri-istri penduduk surga. Bukhory dan Muslim menceritakan dari Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “kelompok pertama yang akan masuk surga indah bagai bulan purnama, merka tidak akan meludah, membuang ingus, atau buang air. Bejana-bejana merka terbuat dari emas, sisisr mereka terbuat dari emas dan perak, dan bakan dupa mereka dari kayu gaharu. Keringat mereka adalah kesturi. Masing-masing mereka mempunyai dua orang istri yang tulang sumsumnya terlihat melalui kulit karena saking cantiknya (Fath al Bari, VI, hlm. 318).
Betapa cantiknya mereka digambarkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai, “jika seorang wanita surga memandang ke dunia ini, ia akan memberikan cahaya dan bau wanginya kepada segala sesuatu yang terletak di antara keduanya (surga dan dunia). Kerudung yang menutupi kepalanya lebih baik dunia ini dan segala isinya” (Fath al Bari, VI, hlm. 15). Jumlah istri minimal seorang lelaki surga adalah 72 orang. Menurut sebuah riwayat seorang syuhada akan mempunyai 72 bidadari surga sebagai istri. Tirmizi dan Ibn Majah meriwayatkan sebauah isnad yang shahih dari Al-Miqdam ibn Ma’dikarib radhiallahu ‘anhu bahwa rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Seorang syuhada akan memperoleh tujuh kehormatan dari Allah subhanahu wa ta’ala: ia akan dimaafkan sejak tetesan pertama darahnya; kepadanya akan diperlihatkan tempatnya di surga; ia akan dilindungi dari adzab kubur; ia akan dibebaskan dari adzab hari kiamat; di atas kepalanya akan ditaruh mahkota keagungan dengan batu mulia yang lebih baik daripada dunia dan segala isisnya; ia akan dinikahkan dengan 72 bidadari surga; dan ia akan diizinkan untuk memeberikan pertolongan (syafaat) kepada 72 orang kerabatnya. (Misykat al-Masabih, III, hlm. 357, no.3834).
Nyanyian Bidadari Surga
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mengatakan bahwa bidadari memeiliki suara yang sangat merdu dan suka menyanyi di surga. Dalam Al-Mu’jam al-Awsath, Ath-Thobarani meriwayatkan dengan sanad yang shahaih dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘an huma bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,”Istri-istri penduduk surga akan menghibur para suami mereka dengan nyanyian yang dibawakan dengan suara yang paling merdu yang pernah didengar orang. Yang mereka nyanyikan adalah, “kami baik dan cantik, istri-istri dari orang mulia dan kami akan memandang suami-suami kami dengan puas dan bahagia.”
Meraka juga akan menyanyikan, “Kami hidup kekal dan tidak pernah mati, kami hidup aman dan tidak merasa takut, kami tetap akan berada di sini dan tidak akan pergi”. (Shahih al-Jam’ash shaghir, II, hlm. 48 hadist no. 1557). Samariah meriwayatkan dalam al-fawaid dari Anas radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Bidadari dalam nyanyian mereka di surga berkata, “ Kami adalah bidadari-bidadari cantik. Kami dipingit untuk suami-suami yang mulia”. (Shahaih al-Jam’ash-shaghir, II, hlm.48. hadist no. 1598). Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bercerita mengenai kecemburuan para bidadari atas para suami mereka di dunia, jika istri suami itu mengecewakan suaminya. Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Mu’adz radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak ada wanita di dunia ini yang mengecewakan suaminya, melainkan istri suaminya dari kalangan bidadari berkata, “Jangan kecewakan dia, nanti Allah akan memerangimu! Ia bersamu hanya sementara dan ia akan segera meningkankanmu dan datang kepada kami. ( Misykat al-Mashabih, III, hlm.90, no. 5636).
Tidakkah kita menginginkan untuk menjadi suami bidadari-bidadari surga? Tentu kita menginginkan hal itu bisa terwujud atas izin Allah. Oleh karena itu, mari kita persiapkan diri dan perbaiki amal agar Allah berkenan menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung dengan memberikan balasan surga dan bidadari cantik yang belum pernah dilihat kecantikan dan kemuliannya.
Sumber: Umar Sulaiman al-Asyqar, Ensiklopedi Kiamat dari Sakaratul Maut Hingga Surga-Neraka, Jakarta:Serambi, 2005, hlm.710 – 713.
Dikutip dari: Buletin Kajian Ahad “An-Naba”, edisi ke-9, 27 Rabiul awwal 1428.